Perjuangan Ikot Rinding Mencari Jubata

Dikisahkan, jika gong dari rumah panjang menggelagar bertalu-talu penduduk kampung Tebelianmangkang sudah tahu. Jika gong ditabuh, berarti ada keadaan genting, dan mereka pun bergegas mendatangi rumah itu.

Ternyata seorang wanita bernama Darahitam akan melahirkan bayi, namun bayinya tidak juga mau keluar. Darahitam sangat khawatir, sebelumnya sudah dua kali bayinya meninggal. Sambil kesakitan ia berdoa dan bernazar kepada Jubata, jika anaknya lahir dengan selamat maka akan dipersembahkan untuk menjadi pelayan Jubata.

Jubata adalah dewa tertinggi suku Dayak, Jubata adalah perantara antara manusia dan Tuhan. Darahitam yakin Jubata akan menolongnya, dan tiba-tiba suara tangis bayi memecah keheningan.

Seluruh penduduk desa menyambut gembira. Karena sangat cantik, bayi perempuan itu dinamakan Domia. Dalam bahasa Dayak, Domia berarti dewi.

Seperti ramalan banyak orang, Domia tumbuh menjadi gadis jelita. Banyak pria yang melamarnya namun Domia menolaknya, sebab ia terikat nazar ibunya pada Jubata. Domia ditakdirkan menjadi pelayan Tuhan, atau imam wanita. Seorang imam tidak boleh menikah. Tidak seorang pun dapat membatalkan nazarnya, kecuali Jubata sendiri yang mencabutnya.

Walau demikian, Domia jatuh cinta pada pemuda bernama Ikot Rinding. Pemuda itupun mencintai Domia, Namun Ikot Rinding heran mengapa Domia tidak mau menikah dengannya.

Suatu hari yang panas, pergilah Ikot Rinding memancing. Namun karena tidak ada seekor ikanpun yang didapatnya, ia lalu pergi ke hulu sungai. Di tengah jalan, Ikot Rinding terhenti. Ia melihat Domia sedang mencuci pakaian, dan langsung menghampiri gadis pujaan hatinya serta menanyakan alasan mengapa Domia tidak mau menikah denganny.

Mendengar pertanyaan itu, Domia terkejut. Domia akhirnya berterus terang, ia bercerita tentang nazar ibunya pada Jubata ketika melahirkannya. Betapa sedih hati Ikot Rinding mendengar cerita itu. Ia tahu, nazar pada Jubata hanya bisa dibatalkan oleh Jubata sendiri.

Karena cintanya pada Domia, Ikot Rinding pun mengembara. Siang berganti malam, malam menjelang pagi. Setelah enam hari mengembara, sampailah ia di Bukit Sungkung. Ikot Rinding beristirahat dan tertidur pulas di bawah pohon rindang. Begitu bangun, hari sudah pagi. Berarti ini hari ketujuh pengembaraanya mencari Jubata.

Saat akan melangkah pergi, Ikot Rinding terkejut. Ia melihat sebuah sumpit tergeletak di tanah. Ikot Rinding segera memungutnya, karena dia berpikir di hutan belantara sumpit akan berguna.

Ikot Rinding pun meneruskan pengembaraanya. Saat melintasi sebongkah batu, ia tiba-tiba teringat pada nasihat ibunya. Saat masih kecil, dia menemani ibunya menyikat pakaian di atas batu. Ibunya selalu berkata, agar jangan sekali-kali mengambil barang orang lain tanpa izin.

Saat itu juga Ikot Rinding berbalik, meletakkan sumpit itu ke tempat semula. Sumpit itu bukan miliknya, dan mungkin milik pemburu yang lewat di daerah itu.

Kemudian Ikot Rinding pun meneruskan perjalanannya mencari Jubata. Badannya mulai lelah, ia merasa lapar dan haus. Tapi begitu ingat akan Domia, ia menjadi bersemangat kembali. Tiba-tiba ia mendengar suara desisan, lalu melintas seekor ular tedung. Ia berhenti di depan Ikot Rinding.

Ikot Rinding sadar ia harus waspada, tangan kanannya kini meraih ranting. Diputar-putarnya ranting itu, lalu dengan cepat tangan kirinya menyambar leher si ular tedung. Ular itu rupanya terpedaya oleh gerak tipunya, dan dilemparnya ular tedung itu jauh ke tepi jurang.

Usai pertistiwa itu, terdengarlah langkah kaki. Ternyata ada orang yang menonton perkelahian Ikot Rinding melawan ular tedung. Awalnya Ikot Rinding curiga, namun wajah pemuda itu terlihat ramah.

Pemuda itu lalu mengenalkan dirinya yang bernama Salampandai, sekaligus putra bungsu raja hutan. Salampandai bercerita sudah dua hari ia berburu, namun tidak berhasil menangkap apapun gara-gara senjatanya hilang. Ia juga bercerita, bahwa ayahnya menyuruhnya rajin berlatih menyumpit. Terutama, menyumpit binatang liar yang bergerak cepat.

Sekarang Ikot Rinding tahu siapa pemilik sumpit yang ditemukannya tadi, ia lalu mengajak Salampandai ke tempat sumpit itu dan benda itu masih ada di sana.

Karena gembira, Salampandai mengundang Ikot Rinding bermalam di rumahnya. Ia ingin mengenalkan sahabat barunya kepada keluarganya. Bahkan, ia pun ingin menjadikan Ikot Rinding saudara angkat walau ia sudah mempunyai enam orang kakak.

Sejak itu, Ikot Rinding diizinkan tinggal di istana. Raja dan ratu sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Salam pandai dan Ikot Rinding pun selalu bersama kemanapun mereka pergi.

Suatu hari Raja berpesan agar menjaga si bungsu dengan baik, saat Ikot Rinding dan keenam putranya akan pergi berburu. Ikot Rinding mengangguk, namun enam saudara kandung Salampandai tidak menjawab. Mereka tidak menyukai Ikot Rinding, karena mereka merasa Ratu dan Raja hanya memperhatikan Si Bungsu dan Ikot Rinding. Mereka lalu membuat rencana mencelakakan salah satu dari Ikot Rinding atau Si Bungsu.

Setibanya di hutan, mereka harus berpencar. Salampandai mendapat tempat yang agak mendaki, dan Ikot Rinding ke tempat yang menurun. Keenam kakak Salampandai sengaja memisahkan mereka berdua. Namun saat keenam orang itu sudah pergi, diam-diam Ikot Rinding membuntuti Salampandai. Ia tahu, keenam orang itu sengaja menyuruh Salampandai ke tempat yang berbahaya.

Saat hendak melewati sebuah gua, Ikot Rinding tiba-tiba berteriak agar Salampandai berhenti dan tidak melewati gua itu. Ikot Rinding tahu, di gua itu hidup sekawanan kalong dengan gigi dan cakar hewan-hewan itu sangat tajam. Ikot Rinding saat melihat gumpalan-gumpalan hitam keluar dari mulut gua menyuruh Salampandai untuk tiarap, namun terlambat karen si Bungsu telah dikepung kelelawar.

Dengan tangkas Ikot Rinding mencabut mandau dan menebas ke segala arah, satu persatu binatang gua itu dikalahkannya. Kini tinggal raja kelelawar yang bertubuh besar, kali ini Ikot Rinding menggunakan sumpitnya. Hanya dengan sekali tiupan, robohlah si raja kelelawar dan si bungsu pun selamat.

Keduanya lalu pulang, Salampandai pun menceritakan peristiwa itu pada ayahnya. Raja sangat takjub mendengarkan cerita ketangkasan Ikot Rinding, Raja sangat bahagia karena putra kesayangannya selamat.

Raja pun berujar pada Ikot Rinding untuk meminta apa pun yang diinginkan, dan hari itu juga akan dipenuhinya.

Pada saat itu Ikot Rinding baru sadar, ayah Salampandai ternyata adalah Jubata itu sendiri. Inilah saat yang diimpikan Ikot Rinding.

Walau agak ragu, Ikot Rinding pun berkata dia memohon bukan untuk dirinya melainkan untuk orang lain. Ikit Rinding meminta Raja agar membebaskan Domia, dari nazar ibunya, Darahitam.

Jubata kemudian teringat, tujuh belas tahun lalu seorang ibu bernama Darahitam kesulitan bersalin. Karena putus asa, Darahitam bernazar dan kini Ikot Rinding meminta agar nazar itu dilepaskan. Jubata yang bijaksana mengerti, berbuat baik jauh lebih penting daripada memegang teguh sebuah sumpah.

Jubata pun mengabulkan permohonan Ikot Rinding, namun Ikot Rinding masih menanyakan bukti bahwa permohonannya telah dikabulkan. Melihat keraguan putra angkatnya, Raja masuk ke kamarnya. Begitu keluar, tangannya memegang setangkai anggrek hitam yang hanya tumbuh di halaman istana Jubata.

Anggrek itu lalu diserahkannya pada Ikot Rinding, Raja lalu mengatakan, saat Domia menerima sendiri dari uluran tangaannya bunga itu akan berubah warna. Itulah pertanda, bahwa nazar ibunya telah dicabut.

Usai menerima anggrek hitam itu, Ikot Rinding bergegas meninggalkan istana. Ia telah sangat rindu pada Domia, perjalanan panjang ditempuhnya tanpa rasa lelah. Tidak terasa, Ikot Rinding tiba di kampung Tebelianmangkang.

Anggrek hitam ia serahkan pada Domia, dan meminta Domia memejamkan matanya. Tanpa banyak bertanya, Domia menurut. Ikot Rindung berkata, nazar ibunya telah dilepaskan Jubata. Sebagai tanda, anggrek hitam di genggamannya akan berubah warna.

Saat membuka kelopak matanya kembali, Domia melihat anggrek hitam telah berubah warna. Jadi putih bersih berseri bagai anggrek bulan, dan kini Domia telah terlepas dari nazar. Sepasang kekasih itu tidak hentinya mengucap syukur pada Jubata, dan keduanya hidup bahagia sampai masa tua mereka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *